Tampilkan postingan dengan label ahmad Tantowy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ahmad Tantowy. Tampilkan semua postingan

Rabu

Warung kopi ning ratri buka 24 jam nonstop




Yogyakarta, 20/5/09

Yogyakarta memang tidak ada matinya. Selain disebut sebagai miniature Indonesia, Jogja juga mempunyai berbagai kebudaian dan keunikan tersendiri ketimbang dengan kota-kota lainnya. Kota pendidikan ini banyak memiliki tempat-tempat asik yang sering digunakan anak muda, seniman atau eksekutif muda untuk menghabiskan malam hari. Sebut saja taman kota benteng vedeburg, kali code, dll. Tapi yang paling asik banyak sekali warung kopi atau kedai kopi yang menjadi tempat alternative untuk begadang. Kedai kopi Ning ratri. Kedai kopi yang satu ini beda dengan kedai kopi lainnya yang ada di tiap sudut kota jogja. Dari tampak luar saja sudah membuat orang mereasa nyaman berada disini. Terpampang slogan “24 jam nonstop” selain itu harganya juga pas untuk kantong mahasiswa.
Kedai kopi ning ratri beridiri sekitar tahun 2004. walaupun tempatnya agak jauh dari pusat kota yaitu di jalan kaliurang KM 5,5 namun itu tak menyurutkan pengunjung untuk sekedar ngopi atau main kartu dan menghabiskan malam. Menurut Cak Tole “ kedai kopi ning ratri tempat favorit para seniman nongkrong, mereka bisa menghabiskan waktu 10 jam hanya untuk nongkrong- nongkrong dan berbincang-bincang di kedai ini” cetus salah satu penjaga kedai.
Kopi memang sudah menjadi minuman yang tepat menemani para penikmat malam (sebutan untuk orang yang suka begadang). Kopi yan terkenal enak di ning ratri adalah Kopi dewa semacang kopi yang diracik dengan komposisi air dan serbuk kopi 50-50 dalam gelas yang berukuran agak gede, bisa dipesan dengan variasi susu jikalau mau. Harga cukup miring, hanya 4500 rupiah .
Sampai saat ini pun kedai kopi Ning Ratri masih Umumnya kopi mengalami klimaks dari sebuah kenikmatan apabila dinikmati kala malam hari dimana mata yang mulai sayu kelelahan bisa menjadi agak segar dan siap menikmati malam dengan seutas cerita dengan kawan ataupun sekadar menghabiskan malam dengan berbagai macam kesibukan lainnya. Kadang pula kopi terasa begitu nikmat dalam lambung ketika diseduh dipagi hari, dikala mentari masih tampak mengantuk menunjukkan wujudnya.

Forum gambar gerak bangkitkan komunitas film indie jogja

Yogyakarta 13 mei 2009, komunitas film indie jogja semakin tahun semakin banyak namun tempat yang memfasilitasi untuk penayangan film indie masih jarang. Munkin untuk mahasiswa yang sudah lama bergelut di bidang apresiasi film sudah tau tempatnya namun hanya sebagian saja, semisal Kinoki dll. Sekarang ada komunitas yang menyediakan dan memfasilitasi hal-hal semacam itu yaitu forum gambar gerak (FGG) forum atau kumpulan komunitas pecinta film indie berlokasi di Wirobrajan tepatnya di kampus ISI lama yang sekarang beralih fungsi sebagai Jogja national museum (JNM).

Mamad ketua FGG meyatakan bahwa untuk membangkitkan lagi komunitas-komunitas film indie di jogja sangatlah sulit, bisa dibayangkan berbagai komunitas film ditiap-tiap kampus sudah berbeda jamannya. Menurut dia setiap tahun / setiap pergantian generasi, sangat susah untuk menghubungi tetapi karena keinginan dan niatan untuk membangkitkan lagi komunitas film indie di jogja membuatnya pantang meyerah. Slogan FGG sendiri yaitu dengan menonton kita mengamati lingkungan sekitar.

Tahun 2009 ini sebagai tahun kebangkitan komunitas film indie ditandai dengan maraknya festival-festival film indie bermunculan. Di JNM sendiri setiap 2 minggu sekali diadakan acara selasa menonton. Selasa menonton itu program pemutaran film indie yang sudah berjalan setengah tahun. FGG bekerjasama dengan jogjaTV dalam program ini. Bentuk kerja samanya yaitu dengan ditayangkannya program Selasa Menonton di jogjaTV setiap hari saptu jam 1 siang.

Senin

Pa'DE sang Juru Parkir

Pak De panggilan akrab teman-teman sesama juru parkir di sekitar kantor pos jogja yang pada saat itu di daerah demangan.10 tahun yang lalu ia masih menjadi juru parkir kantor pos, sakarang ia hanya jadi juru parkir di salah satu warnet disudut kota jogja. Jam menunjukan pukul 20: 35 (20/03/2009)saya pun melanjutkan obrolannya dengan pak De. Menurutnya juru parker sekarang dengan dulu sangat berbeda, walau jumlah kendaraan bermotor dijogja tahun ini sangat jauh berbeda ketimbang jogja saat dulu tetapi untuk menafkahi seorang istri dan ketiga anaknya ia mampu dan sangat cukup. Tidak dengan sekarang.

Pengalaman pak De sendiri sebagai juru parkir sangatlah banyak, dimulai tahun 2000 ia menjadi juru parkir di sekitar kantor pos yang tepat di sebelah bank B.I, selama 5 tahun ia sabar menekuni profesi sebagai juru parkir. Kemudian di pertengahan tahun 2006 ia pindah ke utara yaitu di depan Mall Malioboro. Omset di sekitar Mall Malioboro lebih besar tatapi itu belum disunat(dipotong) untuk oknum-oknum tertentu.

"Ibaratnya jika sepenggal jalan cukup dipegang lima jukir, tetapi kenyataannya dipegang 10 jukir sehingga harus gantian. Namun, itu tidak bisa terelakkan karena banyak orang mengais nafkah dengan menjadi jukir dan mereka punya keluarga," Tutur pak De

Sekitar 8 bulan yang lalu pak De jadi juru parkir di warnet deket rumahnya, menurutnya usia yang tidak muda lagi menuntutnya untuk bekerja di tempat yang tidak jauh dari rumah. (tantowy)
Powered By Blogger