Tampilkan postingan dengan label Dyogi Miyosa Trianzie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dyogi Miyosa Trianzie. Tampilkan semua postingan

Rabu

Workshop Gratik Desain Komunikasi Visual Unika Soegijapranata



SEMARANG,KEEPERS(4/4)-Bekerjasama dengan (FDGI) Forum Desain Grafis Indonesia, serta Watugora atelier, kampus Unika Soegijapranata Semarang mengadakan “WorkshopGratik”. Workshop Gratik ini dilaksanakan pada hari sabtu dan minggu tanggal 4-5 April 2009. Dimana pada acara ini akan diterangkan mengenai proses membatik melalui praktek secara langsung untuk belajar membatik dengan pola kreasi masing-masing dibawah bimbingan instruktur yang merupakan pembatik profesional.

Pada acara tersebut diundang sebagai pembicara dan Instruktur Tunggal Nugroho, alumni Desain Grafis FSRD Trisakti, kini menjadi penggiat Batik di Yogya, dan ditemani beberapa asisten Saudara Gemiarto,Anang dan Tales, serta Sekjen FDGI Caroline F. Sunarko dan anggota FDGI Saudari Intan.

Dengan target sasaran untuk umum terutama anak muda, acara yang baru pertama kali dilaksanakan di kampus Unika ini tergolong sukses, hal ini ditandai dengan hadirnya para peserta workshop yang antusias mengikuti acara ini.

Ayu, salah satu peserta workshop mengatakan sangat tertarik dengan batik dan baru pertama kali ini mengikuti workshop belajar membatik. Selain itu dari panitia, Adi Nugroho mengatakan bahwa acara ini bertujuan untuk memperkenalkan batik pada masyarakat umum yang difokuskan pada anak muda, karena saat ini masyarakat sering menggunakan batik tapi belum tahu cara proses pembuatanya.

Maka dengan adanya workshop ini diharapkan para peserta bisa mendapat pengetahuan tentang apa itu batik Indonesia mulai dari sejarah, filosofi, hingga jenis bahan dan aneka teknik pembuatan batik.

Selasa

Peluang Bisnis Futsal di Kawasan Seturan Yogyakarta

YOGYAKARTA,KEEPERS - Olahraga futsal kini sedang marak di semua kalangan masyarakat serta mempunyai target pasar yang menjanjikan, dan bisnis ini tidak begitu berpengaruh dengan krisis global ataupun naik turunya harga BBM beberapa bulan yang lalu.

            Olahraga merupakan aktivitas yang bermanfaat bagi kesehatan tubuh, selain bisa dilakukan dengan mudah, olahraga juga bisa dilakukan dimana saja. Olahraga yang saat ini sedang trend dan digemari oleh masyarakat khususnya para mahasiswa adalah futsal. Istilah “futsal” adalah istilah internasionalnya, berasal dari kata Spanyol atau Portugis, football dan sala. Karena penggemar futsal ini sangat banyak maka dalam waktu singkat banyak dibangun lapangan – lapangan futsal di Yogyakarta, terutama kawasan Seturan Yogyakarta yang saat ini ada 3 tempat futsal. Banyaknya pengguna persewaan lapangan futsal, menumbuhkan persaingan antar pemilik bisnis ini. Para pemilik mengandalkan fasilitas dan harga yang dapat dijangkau untuk menarik para penyewa. Dan strategi pemasaran ini ternyata sangat efektif. Tempat  lapangan futsal di Yogyakarta sudah lebih dari puluhan banyaknya.

 Yogyakarta merupakan kota pelajar yang sering dikunjungi orang-orang yang menuntut ilmu. Oleh sebab itu bisnis dikota ini sangat berkembang terutama di kawasan Seturan yang diapit oleh kampus segitiga Bermuda,  diantaranya adalah kampus UPN, ATMAJAYA dan STIE YKPN Yogyakarta. Tidak mengherankan jika harga tanah disni mencapai jutaan rupiah per metenya. Salah satu tempat futsal di kawasan Seturan Yogyakarta adalah “pelle futsal” yang terletak di jl.babarsari (depan Hotel Sahid Yogyakarta). Dimana bangunan diatas tanah seluas dua Hektar ini mempunyai lima karyawan dan satu manajer, mulai beroperasi sejak  awal September 2008. Fasilitas yang diberikan berupa dua jenis lapangan, yaitu lapangan yang berlantai jenis rumput sintetis dan kayu parquet (jati). Selain itu juga tersedia fasilitas seperti toilet, kamar bilas, ruang ganti, locker dan mushola. Pelle Futsal buka dari pukul 06.00-24.00. untuk satu jam bermain harga dipatok mulai dari Rp.60.000 (pukul 06.00-12.00), Rp.80.000 (pukul 12.00-16.00, Rp. 130.000 (pukul 16.00-24.00). potongan harga sebesar Rp.10.000 per jam ini juga bisa di dapatkan setiap hari senin. Tempat ini selalu dipenuhi pengunjung dari pagi hingga petang, jadi bisa diperkirakan berapa omset yang didapat dari bisnis ini.

Anang, salah satu pengunjung dari G55 Football Club yang sedang bermain di lapangan pelle futsal ini mengatakan  memilih tempat ini bersama rekan-rekanya karena tempat ini selain harga murah, tempat yang strategis, dan harga yang terjangkau. Selain itu juga G55 Football Club memilih bermain pada pagi hari karena tidak mengganggu waktu kuliah dan jika pagi hari harga sewa lapangan lebih murah. Hal serupa juga diutarakan oleh Andreas, pengunjung dari ANGKASA PURA ADISUCIPTO Football Club. Biasanya kita bermain pagi atau malam hari, jika pagi sebelum masuk kerja, tapi kalau malam hari setelah pulang kerja.

Senin

Kain Batik di Jaman Modern

Nama : Dyogi Miyosa Trianzie
Kelas : E
Mata Kulaih : Dasar-dasar Jurnalistik
Dosen : mas Danu

Berbeda dengan sangat drastis dari masa lalunya yang gemilang sebagai ikon budaya dan busana, kini kain batik hanya mampu menyandang ikon sebagai busana tradisional dan baju kondangan atau busana pada acara seremonial semi formal yang ada pada saat ini.

Telah cukup banyak peragaan busana dan pameran mode yang mengangkat kain batik sebagai tema utama. Bahkan sering diadakan lomba rancang batik tetapi, pada kenyataannya kain batik belum mampu menjadi busana yang populer. Banyak desainer mencoba untuk membawa batik ke dunia modern saat ini. Tetapi hampir semua usaha menggunakan batik sebagai busana popular yang modern atau batik sebagai tempelan motif model tren saja. Batik tetap saja terasa berdiri asing diantara gemerlap karya busana itu sendiri. Batik seolah tidak menyatu sebagai satu kesatuan utuh dengan busana itu sendiri.

Dalam proses pembuatannya batik itu sendiri dapat dibagi 3 jenis dalam proses pembuatanya, yaitu : batik tulis, yang prosesnya ditulis dengan menggunakan tangan dalam proses pembuatanya, dan ada juga batik cap yang menggunakan stampel dalam proses pembuatanya, kemudian ada batik printing yang dibuat menggunakan mesin atau screen sablon.

Ketika isu “Back To Nature” sedang hangat dibicarakan dalam kalangan masyarakat seluruh dunia, salah satunya adalah ketertarikan masyarakat kembali ke jaman tradisional tentu saja membawa angin segar untuk para pengrajin batik tulis, dan membuat mereka gembira. Akan tetapi kegembiraan itu hanya sesaat saja, karena masyarakat bukan membeli dan menggunakan batik tulis tersebut, melainkan masyarakat lebih tertarik memilih dengan menggunakan proses batik printing, yang bermotifkan batik.

Ketika masyarakat memilih untuk membeli batik printing ini maka yang di untungkan hanyalah para pemilik modal yang besar saja, bukan pengrajin kain batik tulis yang memproduksi batik itu sendiri dengan cara manual. Karena batik printing ini dikerjakan menggunakan mesin dan hanya orang – orang tertentu saja atau para pemilik modal besar yang bisa menikmati hasil dari proses ini. Bukan pengrajin kecil kain batik. Akan tetapi pengrajin kecil kain batik tulis ini menjadi tidak popular. Karena yang popular pada saat ini adalah batik printing, bukan batik tulis.
Powered By Blogger